Selasa, 04 Juni 2013

komponen kondisi fisik sebagai berikut:


1.    Kekuatan (Strength)
Kekuatan adalah kemampuan kontraksi seluruh sistem otot dalam menerima beban/ tahanan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dan mampu mengatasi suatu tekanan dalam waktu kerja tertentu sehingga kekuatan ini sebagai dasar dari komponen kondisi fisik lain guna menunjang komponen kondisi fisik tersebut. Kekuatan memegang peranan penting dalam melindungi otot dari kemungkinan cedera, dengan kekuatan atlet akan dapat lebih cepat melakukan teknik yang diinginkan. Jadi kekuatan merupakan salah satu komponen kondisi fisik dan merupakan komponen yang sangat penting dalam penentuan keberhasilan seorang atlet, terutama untuk olahraga atletik yang memerlukan kekuatan maksimal (maximum strength) atau daya ledak (explosive power) atau daya tahan kekuatan (strength endurance). Selain itu kekuatan juga sangat dibutuhkan oleh seorang atlet untuk meningkatkan kondisi fisik keseluruhan. Kekuatan merupakan komponen yang paling mendasar dan sangat penting dalam olahraga. Karena kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik, berperan untuk mencegah cedera, dan merupakan komponen kondisi fisik lainnya. Meskipun banyak aktivitas olahraga lebih memerlukan agility, speed, keseimbangan, koordinasi, dan sebagainya. Tetapi faktor tersebut harus dikombinasikan dengan kekuatan yang merupakan basis bagi komponen kondisi fisik lainnya.
Dalam bola voli, kekuatan digunakan untuk servis ataupun mengembalikan smash lawan. Sedangkan pada bola basket kekuatan digunakan untuk reborn atau mengambil bola yang gagal poin untuk merebut bola dari lawan. Sedangkan aplikasi kekuatan dalam atletik adalah untuk melawan startblock ketika melakukan lari sprint yang menggunakan start jongkok. Kekuatan dapat dilatih dengan latihan tahanan, dimana kita harus mengangkat, mendorong atau menarik suatu beban, baik beban kita sendiri maupun beban dari luar.
2.    Daya tahan (Endurance)
Menurut Sajoto daya tahan adalah "kemampuan seseorang dalam meningkatkan kemampuan seluruh tubuh untuk selalu bergerak dalam tempo sedang sampai cepat yang cukup lama," (Sajoto, 1988:192). Daya tahan dibagi menjadi dua komponen, yaitu daya tahan kardiorespirasi dan daya tahan otot. Daya tahan kardiorespirasi atau daya tahan jantung dan paru adalah kemampuan jantung (sistem peredaran darah) dan paru (pernapasan) untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas sehari-hari dalam waktu cukup lama tanpa mengalami kelelahan berarti. Daya tahan ini sangat penting untuk menunjang kerja otot, yaitu dengan mengambil oksigen melalui pernapasan dan mengirimnya ke otot-otot yang sedang aktif atau berkonsentrasi melalui peredaran darah. Sedangkan daya tahan otot merupakan kapasitas otot untuk melakukan kontraksi secara terus menerus pada tingkat intensitas sub maksimal. Tujuan latihan daya tahan adalah meningkatkan kemampuan daya tahan aerobik dan daya tahan otot. Artinya, seorang atlet dipacu untuk berlari dan bergerak dalam waktu lama dan tidak mengalami kelelahan yang berarti. Kemampuan daya tahan dan stamina dapat dikembangkan melalui kegiatan Ian dan gerakan-gerakan lain yang memiliki nilai aerobik¬
Untuk mempertahankan atau meningkatkan daya tahan kardiorespirasi adalah dengan melakukan latihan aerobik atau lari Jogging) selama 40-60 menit dengan kecepatan yang bervariasi. Sedangkan daya tahan otot itu sendiri mengacu pada suatu kelompok otot yang mampu untuk melakukan kontraksi berturut-turut untuk waktu yang lama, misalnya latihan push up dan sit up.
Daya tahan adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk berlatih dalam waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan (Harsono, 2001:8). Komponen kondisi fisik daya tahan merupakan komponen yang utama dalam permainan sepak bola. Sedangkan pada olahraga bola basket, daya tahan digunakan untuk tambahan waktu jika terjadi skor yang sama pada kuarter 4 dengan tambahan 1 kuarter dengan durasi 5 menit. Pada atletik itu sendiri daya tahan digunakan untuk mempertahankan tempo lari pada lari jarak menengah hingga jauh.
3.    Daya ledak Otot (Muscular Power)
Kemampuan daya ledak otot atau yang sering kita sebut power, ini sangat dipengaruhi oleh dua unsur komponen kondisi fisik lainnya yaitu kekuatan otot dan kecepatan. Kedua komponen kondisi fisik ini tidak dapat dipisahkan karena pada prinsip kerjanya kedua komponen kondisi fisik ini bekerja bersama untuk menghasilkan kemampuan daya ledak otot (power), dan dasar dari pembentukan power ini adalah kekuatan, maka sebelum melatih kondisi fisik power haruslah terlebih dahulu dilatih kekuatan.
Daya ledak otot atau muscular power adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, dengan usaha yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya (Sajoto, 1988:58). Daya ledak diperlukan semua cabang olahraga tak terkecuali cabang olahraga atletik, karena selain kekuatan terdapat pula kecepatan. Sehingga latihan yang diberikan kepada atlet untuk meningkatkan daya ledak yaitu tidak hanya faktor beban saja tetapi harus memperhatikan faktor kecepatan konstraksinya. Dengan demikian bahwa daya ledak merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat diperlukan untuk performance seorang atlet khususnya cabang olahraga atletik.
Power merupakan komponen yang banyak dibutuhkan dalam unjuk kerja terutama pada unjuk kerja yang bersifat daya ledak otot (eksplosive). Dalam olahraga atletik, aplikasi dari power mempunyai pengaruh besar pada lompat jauh dan jangkit. Sedangkan pada olahraga tinju, power ini digunakan untuk memukul lawan. Bentuk latihan untuk melatih power adalah lompat gawang kecil dan plyometric.
4.    Kecepatan (Speed)
Kecepatan sendiri menurut Harsono (2001:36) adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, atau kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang cepat. Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005:106) "Kecepatan adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menjawab rangsangan dalam waktu secepat dan sesingkat mungkin". Dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan adalah kemampuan otot dalam menjawab rangsangan untuk melakukan gerakan-gerakan sejenis dalam mencapai jarak tertentu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Satu-satunya yang sulit dalam pembinaan mutu kondisi fisik adalah meningkatkan kecepatan berlari, karena ini untuk sebagian besar merupakan keturunan atau sifat bawaan seseorang. Untuk menghasilkan kecepatan dengan baik maka dibutuhkan latihan-latihan yang : mendukung komponen kondisi fisik tersebut yang sebaiknya diberikan kepada atlet setelah memiliki komponen kekuatan. Dalam olahraga atletik kecepatan sangat diperlukan misalnya dalam pencapaian suatu jarak tertentu pada lari. Sedangkan pada bola voli kecepatan juga sangat diperlukan misalnya kecepatan memukul bola, memblok atau mengembalikan smash dari serangan lawan. Bentuk latihan untuk melatih kecepatan adalah lari cepat dalam jarak dekat, back to back, dan lain-¬lain.
5.    Kelentukan (Flexibility)
Menurut Sajoto kelentukan adalah "keefektifan seseorang dalam menguasai dirinya, untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot, ligamen-ligamen di sekitar persendian" (Sajoto, 1988:58). Seorang atlet yang tidak memiliki kelenturan dia akan cenderung akan sedikit sulit dalam melakukan gerakan apalagi dengan gerakan yang kompleks dan dia akan terlihat kaku. Sebaliknya seorang atlet memiliki kelenturan dia akan lebih mudah dalam melakukan gerakan dan lebih efisien dan mengurangi risiko cedera.
Kelentukan merupakan komponen kondisi fisik yang penting sekali dalam hampir semua cabang olahraga, terutama cabang-cabang olahraga yang banyak menuntut gerak sendi, salah satunya cabang olahraga atletik khususnya nomor lompat tinggi.
Harsono menyatakan bahwa perbaikan dalam kelentukan akan dapat:
1.    Mengurangi kemungkinan terjadinya cedera-cedera pada otot dan sendi.
2.    Membantu dalam mengembangkan kecepatan, koordinasi dan kelincahan.
3.    Membantu memperkembang prestasi
4.    Menghemat pengeluaran tenaga pada waktu melakukan gerakan-gerakan.
5.    Membantu memperbaiki sikap tubuh.
(Harsono, 2001:15)

6.    Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ¬-organ syaraf ototnya, selama melakukan gerakan-gerakan yang cepat, dengan perubahan letak titik bobot badan yang cepat pula baik dalam keadaan statis maupun dalam gerak dinamis (Sajoto, 1988:58).
Keseimbangan terbagi menjadi dua, (a). Keseimbangan statis adalah kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan dalam posisi tetap. (b). Keseimbangan dinamis adalah kemampuan mempertahankan keseimbangan pada waktu melakukan gerak don' satu posisi kearah posisi lain. Dalam olahraga senam alat, keseimbangan ini memegang peranan penting dalam pencapaian prestasi. Dimana seorang pesenam mampu melakukan gerakan-gerakan yang indah di atas alat yang digunakan. Sedangkan pada atletik, keseimbangan ini digunakan untuk spesialisasi tolak peluru setelah atlet melakukan tolakan.
7.    Kelincahan (Agility)
Kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu sedang bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuhnya (Harsono, 2001:21). Jadi kelincahan bukan hanya menuntut kecepatan, akan tetapi juga fleksibilitas yang baik dari sendi-sendi anggota tubuh. Tanpa memiliki kelincahan seorang atlet tidak akan bisa bergerak lincah, selain itu faktor keseimbangan juga penting dalam agility. Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya agility atau kelincahan adalah kombinasi kecepatan, kekuatan, kecepatan reaksi, keseimbangan, kelentukan, dan koordinasi. Bentuk latihan untuk mengembangkan kelincahan adalah lari bolak-balik atau shuttle run, dalam latihan seorang atlet dituntut lari cepat, belok cepat, tidak kehilangan keseimbangan dan posisi tubuh. Kelincahan ini sangat diperlukan dalam cabang olahraga atletik, karena dalam olahraga ini unsur kelincahan memegang peranan penting terutama nomor-nomor tehnik, seperti lari gawang, lompat tinggi dan lain-lain. Sedangkan pada olahraga bulutangkis, kelincahan ini berfungsi untuk merubah arah setelah melakukan pukulan.
8.    Koordinasi (Coordination)
Koordinasi adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh ketepatan (Tangkudung, 2006:67). Dalam bukunya Nurhasan (2005:21) mengemukakan bahwa komponen koordinasi menjadi dasar bagi usaha belajar yang bersifat sensomotorik.
Makin tinggi tingkat kemampuan koordinasi akan makin cepat dan efektif dalam mempelajari suatu gerakan. Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005:139) "Koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari kualitas otot, tulang dan persendian dalam menghasilkan satu gerakan yang efektif dan efisien.
Aplikasi koordinasi dalam atletik adalah kemampuan merubah arah tubuh saat melakukan lompat tinggi galah. Yaitu kemampuan berlari membawa galah, menumpu yang memerlukan ketepatan, hingga melewati mistar. Sedangkan pada olahraga hoki, sangat membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang baik. Seorang atlet hoki harus bisa mengendalikan pergerakan bola hoki yang tergolong kecil dengan menggunakan stick hoki, supaya bisa memainkan bola hoki dan bisa melihat posisi kawan untuk bekerjasama atau untuk melihat posisi lawan untuk dihindari. Bentuk latihan koordinasi yang diberikan adalah lari ABC, lari kijang dan berbagai gerakan yang menyerupai gerakan lari.
9.    Reaksi (Reaction)
Reaksi (Reaction) adalah kemampuan seseorang segera bertindak secepatnya, dalam menanggapi rangsangan-rangsangan yang datang lewat indera, syaraf, atau feeling lainnya (Sajoto, 1988:59).
Bentuk latihan yang diberikan adalah latihan start dengan berbagai modifikasi, misalnya dengan jongkok, tidur tengkurap, duduk selonjor, dan lain-lain. Reaksi ini berfungsi sebagai ketepatan dalam melakukan start. Sedangkan aplikasi reaksi dalam sepak bola adalah pada saat pemain sedang menggiring bola, terutama pada situasi man to man pemain harus bereaksi cepat untuk dapat meloloskan diri dari hadangan lawannya dan apabila hal tersebut dapat terlaksana dengan baik maka tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan peluang terjadi gol.
10.    Stamina.
Stamina adalah tingkat yang lebih tinggi dari daya tahan (endurance). Otomatis kemampuan aerobiknya lebih tinggi dari pada kemampuan aerobik pada daya tahan bahkan dirubah menjadi kemampuan anaerobik.
Menurut Harsono terdapat beberapa cara untuk meningkatkan daya tahan menjadi stamina adalah:
1.    Memperjauh jarak lari atau renang dengan tetap memperhatikan tempo yang tinggi.
2.    Mempertinggi tempo (kecepatan 90% sampai 100% maksimal).
3.    Memperkuat otot-otot yang dibutuhkan untuk kerja tersebut. (Harsono, 2001:15)
Melihat pernyataan di atas bahwa kemampuan daya tahan itu dapat ditingkatkan menjadi lebih tinggi.
Menurut Harsono stamina adalah "Tingkatan daya tahan yang lebih tinggi derajatnya daripada endurance" (Harsono, 200L14). Oleh karena itu atlet haruslah dilatih dengan intensitas yang semakin lama semakin tinggi intensitasnya, sehingga kemampuannya untuk bertahan terhadap rasa lelah semakin lama semakin meningkat. Dalam olahraga atletik, stamina ini digunakan untuk pelari jarak menengah hingga jauh agar dapat mempertahankan kecepatan tertentu. Sedangkan pada sepakbola, stamina ini berfungsi untuk melakukan gerakan yang relatif lama yang mengacu pada waktu

0 komentar:

Poskan Komentar